Senin, 19 Maret 2012

Karena Mereka Elang Muda

(Pengantar untuk Buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI:
Serpihan Hati Para Pejuang)[1]


“Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat-saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia di sekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintahlah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia di sekeliling kita”, demikian ungkapan Ust. Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta.
Namun cinta di sini tidak dimaknai sebagai “perasaan syahwat” yang tak terkendali. Sebagaimana para pecinta palsu memahami cinta. Di sini, cinta benar-benar cinta. Cintanya para pecinta. Bagaimana tidak, KAMMI yang masih berusia muda—ibarat gadis cantik itu—membuat mereka tergila-gila. Yang membuat mereka “menggodanya” tapi juga “menikmatinya.” Memberi makna terhadap diri mereka sendiri, dan juga untuk KAMMI tempat mereka memulai karya.


Mengapa? Selain namanya yang memang menunjukan representasi kecintaan anak muda pecinta Islam (agama mereka) dan Indonesia (negeri mereka)—sebagaimana Al-Fatih dalam menaklukan Konstantinopel. Lebih dari itu, suasana yang terbangun dalam ruang gerakan KAMMI, di mana mereka hidup, bergerak dan melangkah memang syarat dengan keindahan, penuh heroisme, kaya kenangan dan juga pengorbanan. Bahkan juga cinta itu sendiri, cinta persaudaraan dan cinta perjuangan.

Bukti cinta mereka terhadap KAMMI dan juga kader-kadernya tak berhenti di lorong perjuangan dalam periode tertentu, tapi juga sampai di negeri keabadian yang niscaya. Hingga hari ini dan untuk selamanya. Ruang kontribusi mereka kepada KAMMI tidak hanya dibangun di atas dan atas nama cinta, bahkan lebih dari itu. Walau kata cinta lebih tepat untuk menunjukan segalanya.

Mereka menunaikan semuanya bukan dengan pelemahan atas jiwa juang mereka yang kuat. Kuat karakternya, kuat juga jiwanya. Namun, justru dengan penguatan jiwa mereka yang semakin kuat, bahkan tahan banting. Hal ini terlihat dalam peran mereka selama di KAMMI yang terrekam dalam cerita dan diksi tulisan-tulisan mereka yang punya kekhasan, lugu [berbicara sesederhana mungkin], terbuka [berbicara apa adanya] dan secara emosional terlihat tak berjarak dengan kepribadian mereka sendiri bahkan kader-kader KAMMI.

Jujur, belum ada tulisan yang membuat saya menangis sepanjang waktu [beberapa jam] seperti yang saya alami saat merapihkan [mengedit] buku ini ketika masih dalam bentuk naskah. Membaca penggalan kisah, pengalaman dan juga hikmah di dalamnya begitu menghanyutkan jiwa nestapa—yang mudah mengeluh dan merasa perjuangan ini cukup berhenti di sini—ke alam kesadaran. Terutama diri saya sendiri. Betapa KAMMI benar-benar menjadi rumah mereka—tempat mereka hidup. Benar-benar menjadi tempat memupuk rindu—semacam ketulusan berukhuwah, keikhlasan beramal, merangkai ide jadi gerakan dan seterusnya. [Ya Allah, saksikanlah…Jadikan air mata ini menjadi saksi atas kesungguhan hamba-Mu untuk mencintai KAMMI sebagaimana pendahulu hamba mencintai kader-kader KAMMI dan diri mereka!]

Lebih lanjut, hanya pembaca—terutama kader KAMMI yang lebih tahu apa yang dirasakan ketika atau setelah membaca buku ini. Saya tidak bermaksud mengajak pembaca “cengeng”, menangis menghabiskan air mata. Tidak, sama sekali tidak. Saya hanya ingin—sebagaimana isi buku ini—mengajak kita untuk hidup dan menunaikan amanah di KAMMI seikhlas mungkin. Jangan mudah meratapi keadaan dengan berhenti melangkah dan menutup diri dari ketidakberdayaan. Sebagaimana juga, untuk mereka yang sempat atau bahkan masih suka “menghakimi” kader-kader KAMMI, jangan sesukanya “menghakimi” KAMMI, kader-kadernya. Tanpa bermaksud membela kelemahan, kesalahan dan kekeliruan, kader-kader KAMMI adalah manusia biasa yang juga memiliki potensi untuk salah, keliru bahkan untuk durhaka.

Namun percayalah, di balik itu semua mereka, kader-kader KAMMI memiliki kesadaran keberlanjutan perjuangan seperti elang yang menghadang angin yang akan terus saja menerjang. Mereka adalah elang-elang muda. “…. Maka masa depan Indonesia—bahkan umat manusia—adalah elang-elang muda itu. Elang muda yang tumbuh dalam lingkungan kebaikan dan cinta. Elang muda yang berhasil memenangkan kecenderungan kebaikannya (taqwa) atas ego kejahatannya (fujuur). Yang akan terus menerus tumbuh besar untuk menghadang angin. Terus menerus hingga angin kelelahan dan pulang.” Mereka bisa sadar, semacam taubat dari kedurhakaan, setapak demi setapak.

Lebih dari itu, ke depan KAMMI punya obsesi untuk berpacu lebih maju dalam segala aspeknya, terutama dalam menerjang kerumitan yang dihadapi oleh gerakan KAMMI—termasuk urusan rumah tangga KAMMI sendiri—dan juga kemandegan negeri ini untuk bangkit. Bukan bemaksud meratapi ketertinggalan, tapi (lebih utama) sebagai jalan terang untuk membawa umat dan negeri ini ke pangkuan istana kejayaannya. Jika itu yang menjadi harapannya, maka KAMMI (memang) pemimpi sekaligus pelakunya. Kalau saja ada ide yang menjadi spiritnya, maka buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang [MAMK: SHPP] ini layak menjadi pustakanya. Selamat mengambil hikmah wahai pejuang-pejuang muda! []

[1] Ditulis di Jl. Ahmad Yani No. 873 Kota Bandung; Selasa/23 Februari 2010, Pukul 12.30-14.45 WIB. Buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang merupakan kumpulan tulisan Akhi Imron Rosyadi, Mba Evie Fitri dan Akhi Aji Kurniawan Darmawan (Izzatul Ikhwan) yang diterbitkan oleh Penerbit Muda Cendekia (Maret, 2010)

Minggu, 18 Maret 2012

Mengapa Aku Mencintai KAMMI

Serial 2 Tentang Fitri

Saya sekalipun belum pernah berjumpa dengannya. Tapi, karena Allah dan juga karena teknologi informasi, kami merasa dekat. Pernah suatu saat ia meminta dianggap adik, untuk kemudian tergopoh-gopoh meralatnya. Takut menjadi fitnah katanya.


Ia seorang akhwat KAMMI Daerah Solo, staf Departemen Pengabdian Masyarakat. Pada ujung Ramadhan lalu, di Solo, ia - hampir sendirian - mengurus jatah buka bersama untuk 100 orang dari Jami'aturrahmah untuk KAMMI Teritorial V. Hampir sendirian, kerena hampir seluruh pengurus KAMMI Daerah Solo telah mudik, sementara Ramadhan hampir usai.

Ia selenggarakan itu di rumahnya. Dengan melanggar ketentuan Jami'aturrahmah yaitu harus diselenggarakan di masjid. Di rumah, karena tidak ada masjid yan layak di dekat rumahnya - sebuah daerah kristenisasi dengan seorang pastur misionaris yang amat kaya. Acaranya sukses, lebih dari seratus orang - kebanyakan anak-anak - yang menghadiri acaranya. Sebagian dari mereka adalah anak asuh Yayasan Al Fithrah. Yayasan yang ia bangun untuk menghadapi kristenisasi di lingkungannya.

Ia akhwat yang amat cerdas. Ia telah diminta oleh rektornya untuk mengikuti program pertukaran di Jepang selama dua tahun. Anugerah yang ia tolak, karena merasa berat untuk tinggalkan ibu dan yayasannya. Ia telah diminta jadi dosen di almamaternya - Pendidikan Luar Biasa UNS - bahkan sejak ia belum lulus kuliah. Kini, ia dikursuskan bahasa Jepang lagi, mungkin mau diminta ke Jepang lagi.

Pekan-pekan ini ia punya problem besar. Pada awalnya, tiga anak asuhnya butuh duit besar untuk UAN, sementara kas yayasan kosong. Untunglah Allah memudahkan, meski belum tertutupi semua. Pekan terakhir, melalui sebuah SMS, ia menyalahkan dirinya berkali-kali: beberapa anak asuhnya memilih bersama orang tuanya , murtad, keluar dari agama Allah ini.

Tapi ia tetap sosok yang tegar, secara rutin nasihat-nasihat Manajemen Qalbu AA Gym selalu saja ia kirimkan. Beberapa kali berbagi cerita, tentang rasa kecewanya karena belum mampu untuk menyelesaikan bukunya yang bertema "aksesibilitas politik bagi kaum difabel (different abilities)". Buku yang ia letupkan sebagai protes atas ketidakpedulian politisi Indonesia pada para difabel.

Maka, tiap waktu dikala aku jenuh mengurus KAMMI, kecewa terhadap 'pragmatisme' kader-kader KAMMI, dan frustasi dengan masa depan KAMMI, aku selalu menghadirkannya. Menghadirkan seseorang yang bahkan takkan pernah mampu membaca tulisan ini.

Menghadirkan Fitri Nugrahaningrum. Seorang akhwat tuna netra.

# Oleh Imron Rosyadi


Beberapa hari yang lalu, seseorang dg nama Fitri Nugrahaningrum menjadi bintang tamu reality show, tepatnya acara Tuperware She Can. Kisahnya sangat menginspirasi. Kita patut malu apabila semangat kita kalah dengan orang tersebut.


Kisahnya juga pernah dimuat Sebuah Harian terkemuka di Indonesia.

Dia merasa kerasan sebagai tunanetra karena dia bisa menemukan keberartian hidup di tengah gelapnya dunia. Meski ia hanya bisa melihat sosok hitam orang di hadapannya, aktivitas Fitri Nugrahaningrum tak kalah dibandingkan orang lain. Tunanetra yang disandangnya tak menghalangi Fitri mewujudkan mimpinya.

Kalau saya tidak buta, barangkali tak merasakan indahnya dunia, bisa dekat dengan anak-anak. Banyak yang menawarkan untuk menjalani operasi di luar negeri, tetapi saya tolak. Saya takut lupa diri jika bisa melihat lagi,” katanya.

Fitri, lulusan S-2 Program Pengembangan Masyarakat Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, itu mengajar 100-an anak usia 2-12 tahun dalam kelompok belajar Sahabat Anak Raih Asa (Sahara). Ia dibantu para relawan yang bekerja tanpa gaji. Di Yayasan Al Fitrah yang menaungi Sahara, ada 10 relawan yang mengurusi bimbingan belajar, teater, kegiatan luar ruang, dan deteksi dini kesehatan/gizi anak.

Pada 1997 Fitri membentuk kelompok belajar yang awalnya terdiri atas enam anak jalanan. Ia mengajarkan mereka mata pelajaran sekolah, budi pekerti, dan baca tulis Al Quran.

Ia bercerita, suatu hari saat tengah menyeberangi jalan, ia hampir tertabrak mobil. ”Meskipun waktu itu saya sudah pakai tongkat, tapi alhamdulillah ada anak-anak yang menarik saya,” katanya tentang peristiwa saat dia duduk di bangku SMA itu.

Dari perkenalannya dengan enam anak penolongnya itu, Fitri merasa terenyuh mendengar kisah teman-teman barunya yang mencari nafkah dengan mencari kardus. Usia mereka saat itu antara lima dan tujuh tahun.

”Mereka sering diperlakukan tak manusiawi di jalanan. Cara bicara mereka kasar karena kerasnya hidup yang dijalani. Saya ajak mereka belajar di rumah. Anak yang masih sekolah dibantu biayanya agar tak perlu di jalanan lagi,” kata Fitri.

Sahara dan Samara

Dia menggalang dana dari teman-teman sekolah. Saat itu, ada yang menyumbang Rp 300, Rp 500, Rp 1.000 atau memberikan buku. Kurang dari sebulan, kelompok belajarnya diikuti 119 anak dengan peserta bertambah yang berasal dari anak yatim piatu dan anak dari keluarga tak mampu di sekitar rumahnya.

Pada 1998 kelompok belajar itu diberi nama Al Fitrah. Karena jumlah pesertanya makin banyak, Fitri minta bantuan kepada teman sekolah. Lokasi kegiatan belajar berpindah sampai lima kali, mengikuti kepindahan orangtuanya yang masih mengontrak.

Kegiatan ini lalu mendapat bantuan donatur. Fitri pun menuruti nasihat beberapa donatur untuk membentuk yayasan sebagai payung kegiatannya. Tahun 2000 dibentuk Yayasan Al Fitrah.

Kegiatan terus berjalan meski mengalami pasang surut hingga peserta tinggal 50 anak. Ini antara lain karena dia

sering tinggal di Yogyakarta untuk menyelesaikan tesis tentang pemberdayaan masyarakat pascagempa di Bantul. ”Saya sedih, anak-anak itu kembali lagi ke jalanan,” katanya.

Tahun 2005 Fitri mendirikan pendidikan luar sekolah Satelit Masa Depan Negara (Samara). Ia menyewa gedung sekolah dasar negeri di Solo. Dengan bantuan berbagai pihak, peserta Samara terkumpul 483 anak yang terbagi dalam kelompok 2-4 tahun, 4-6 tahun, 7-9 tahun, dan 9-12 tahun. Sempat berjalan dua tahun, Fitri menghentikan kegiatan karena timbul masalah.

”Sekolah yang kami tempati merasa tersaingi meski kami baru belajar mulai pukul 14.00. Sebenarnya kami ditawari gedung lain oleh Diknas, tapi tempatnya terlalu jauh. Kasihan anak-anak yang orangtuanya tak mampu,” kata Fitri sambil mengajar beberapa anak membuat bunga.

Bersyukur, Fitri dan keluarga hampir merampungkan pembangunan gedung berlantai tiga di depan rumah kontrakan mereka, di tengah permukiman padat Kampung Kandang Sapi, Jebres, Solo. Rumah yang dibangun di atas lahan 100 meter persegi itu untuk kegiatan Samara dan Sahara.

Memanfaatkan ilmunya, Fitri menggabungkan berbagai konsep dan metode pendidikan. Selain memberikan materi pelajaran seperti di sekolah formal, anak-anak juga diberi muatan tentang moral dan budi pekerti, keterampilan, teater, serta kegiatan luar ruang. Mereka juga diajari kewiraswastaan agar nantinya bisa mandiri secara ekonomi.

Tinggi dan berat badan mereka juga dipantau. ”Ada dokter anak yang sukarela membantu memantau kondisi gizi anak-anak,” tutur Fitri.

Fitri yang suka menulis buku, terutama tentang motivasi bagi difabel, ini ingin mewujudkan mimpinya membuat sekolah yang menghargai sepenuhnya bakat anak. Baginya, tak ada anak bodoh, yang ada lingkungan yang tidak memahami bakat anak.

”Saya menggabungkan konsep homeschooling, sekolah alam, dan sekolah formal dalam pembelajaran kami,” katanya.

Untuk membiayai kegiatan itu, Fitri mengandalkan kocek pribadi dan sumbangan donatur. Ia bekerja sama dengan teman dan keluarga membuka berbagai usaha, seperti konveksi, percetakan, dan bimbingan belajar.

Di Samara, ditetapkan iuran pendidikan sukarela sesuai kemampuan, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000. Di kelompok belajar Sahara, peserta membayar Rp 1.000 bagi yang mampu. Biaya operasional kelompok belajar yang kini beranggotakan 100 peserta mencapai Rp 3 juta per bulan. Biaya itu dipenuhi dari bantuan tiga donatur, Rp 875.000 sebulan, dan penghasilan dari berbagai usaha.

”Saya masih dibantu ibu yang membuat sari kedelai dengan ibu-ibu di kampung. Bapak juga membantu dengan membuat baju pesanan untuk berbagai instansi di wilayah Indonesia timur,” katanya.

Tukang pijat

Ayahnya, BAE Soewarno (65), pensiunan tentara dan ibunya, Tjanti Herawati (51), seorang bidan, mendorong anak-anaknya berprestasi. ”Ibu selalu berpesan agar saya menjadi anak pintar. Saya sering mendengar Bapak berdoa agar saya tak hanya jadi tukang pijat,” kata Fitri.

Sindroma Steven Johnson (SSJ) merenggut daya lihat Fitri. Penglihatannya mundur saat ia kelas V SD dan benar-benar hilang saat duduk di bangku SMA. Seorang dokter anak memberinya obat yang malah membuat dia pingsan dan sekujur tubuhnya gosong. Kasus ini yang pertama terjadi di Solo kala itu.

SSJ adalah reaksi alergi sistemik terhadap obat atau virus tertentu. SSJ menyerang selaput lendir sehingga bisa menyebabkan komplikasi berupa radang kornea dan menyerang bola mata. Ini dapat mengakibatkan kebutaan. SSJ juga bisa menimbulkan radang hati, ginjal, saluran pencernaan, sendi, dan paru.

Akibat terkena sindrom ini, Fitri dirawat di rumah sakit selama enam bulan. Hanya sempat seminggu di rumah, kembali ia harus menginap di rumah sakit selama tiga bulan. Dokter pernah memvonisnya tak mampu bertahan hidup lama. Tuhan berkehendak lain dan memberinya kehidupan hingga kini. Anugerah ini dimaknai Fitri dengan karya nyata bagi sesama.

Kompas,tanggal 11 Juni 2009 dengan judul: "Dunia Gelap yang Memberi Terang"


By Number One

Jumat, 16 Maret 2012

KAMMI Jember Peduli Rakyat

TOLAK RENCANA KENAIKKAN BBM
BUBARKAN REZIM KEBOHONGAN


Dua tahun lebih sudah rezim kebohongan menguasai Indonesia, cerita menyedihkan tentang kebijakan yang tidak berpihak, kasus korupsi yang makin meningkat, tidak dipercayanya penegak hukum, kenyataan bobroknya partai penguasa tiap hari menghiasi media kita yang disambut pemerintah dengan kosmetik pencitraan yang tidak sedap dipandang. Belum selesai rakyat menanggung beban hidup yang semakin bertambah, kini rezim kebohongan malah menyiapkan belati yang siap menusuk asa publik yang semakin lelah dengan rencana menaiknya harga BBM.

Pembahasan UU APBN-P yang akan mengakibatkan kenaikan harga BBM yang nantinya diikuti kenaikan TDL adalah wujud ketidak pedulian dan ketidak berpihakkan dengan nasib rakyat. Bahkan dapat dinilai sebagai tindakan tidak kesatria yang menjilat ludah penguasa sendiri dari comberan. Rezim kebohongan secara nyata tidak berusaha mengayomi rakyatnya. Kenaikan BBM dan pemberian BLSM sejatinya bukan solusi dalam menyelamatkan keuangan negara dan bentuk pengayoman rakyat. Namun keberanian pemerintah membendung liberalisasi, penanaman modal asing, renegosiasi dan nasionalisasi SDA serta penghematan dan pemangkasan anggaran adalah langkah yang seharusnya diambil untuk menyelamatkan keuangan bangsa.

Alasan naif tentang menaiknya harga BBM untuk menyelamatkan keuangan negara adalah suatu kebohongan besar. Sebab dalam APBN porsi subsidi BBM untuk rakyat adalah jumlah yang kecil dibandingkan pembiayaan aparatur negara, hal ini menunjukkan ketidakmauan pemerintah untuk turut merasakan penderitaan rakyatnya. Dan ketidakmampuan politik luar negri pemerintah yang menyebabkan liberalisasi di segala aspek kehidupan negara UU migas 22/2001 dan UU PMA 25/2007 akan menyeret bangsa ini pada jurang kesengsaraan yang lebih besar yang menjadikan negara ini autopilot yang dikendalikan asing, menyikapi rencana kenaikan BBM dan melihat penderitaan rakyat yang makin besar, dengan ini PD KAMMI Jember mengambil sikap:
• Menyerukan pemerintah mengambil langkah renegosiasi kontrak karya kerja sama pengeolaan migas dan atau nasionalisasi perusahaan migas asing di Indonesia
• Penghematan anggaran dan pemangkasan gaji aparatur negara dan anggaran yang kurang penting, sebagai ganti dari langkah menaikkan harga BBM
• Revisi UU Migas No 22/2001, UU PMA No 25/2007, UU 19/2004
• Meminta Pemkab dan DPRD Jember turut mengambil sikap menolak kenaikkan harga BBM
• Menolak kebijakan tentang kenaikkan harga BBM
• Menyerukan SBY-Boediono dan Rezim Kebohongannya mundur.

Hari ini, Jum’at 16 Maret 2012 sekitar pkl. 13.10 WIB, mahasiswa kader KAMMI menggelar aksi peduli rakyat dengan tujuan menyerukan hal-hal di atas. Dimulai dari komisariat yang terletak di Jl. Jawa VI hingga ke gedung DPRD, kader KAMMI berbaris di tengah jalan dikawal oleh beberapa polisi dengan membawa semua perangkat aksi seperti bendera, karton yang berisi tulisan, hingga panci yang digunakan untuk penyemangat.



Naik-naik BBM naik, rakyat makin tercekik..
Naik-naik BBM naik, rakyat makin tercekik...
Kiri-kanan kulihat saja, banyak rakyat sengsara...
Kiri-kanan kulihat saja, banyak rakyat sengsara...
Itulah diantaranya lagu yang dinyanyikan para kader untuk menyindir pemerintah.

Gema takbir terus menggema disepanjang Jalan Jawa siang itu. Para pengguna jalan, menghentikan aktivitasnya untuk mendengarkan himbauan yang disampaikan. Kami tidak bermaksud membuat jalanan macet. Kami hanya peduli kepada nasib rakyat. Beberapa kader membawa kain dan meminta rakyat untuk menandatanganinya sebagai bukti bahwa KAMMI melakukan semuanya memang untuk rakyat.



Sesampainya di bundaran depan DPRD salah seorang kader (Eriek Mustaqim) melakukan orasi selama kurang lebih satu jam. Aparat kepolisian sudah bersiap siaga disekitar bundaran untuk mencegah kami memasuki daerah gedung. Banyak juga wartawan yang datang untuk meliput.

Satu jam setelah selesai berorasi, kami menuju ke gedung DPR untuk menemui anggotanya. Disini Ketua Umum KAMMI Daerah (Ribut Hadi Sutrisno) kembali berorasi meminta anggota dewan untuk keluar. Polisi semakin bersiaga di depan pintu. “Keluar...keluar anggota Dewan... Anggota dewan harus keluar...” suara kami berkumandang di depan pintu. Tapi tetap tidak ada satupun anggota Dewan yang keluar. Hingga ketika kami benar-benar akan menorobos masuk, salah satu anggota Dewan dari fraksi PDIP keluar dan memohon maaf karena anggota Dewan lain yang kami cari tidak ada. Beliau setuju untuk menandatangani kain yang kami bawa sebagai bukti bahwa beliau memang peduli rakyat.



Kami sedikit kecewa karena setelah dipastikan memang anggota Dewan yang lain sudah tidak ada di tempat. Sungguh hal ini menunjukkan bahwa wakil-wakil yang dipercaya rakyat tidak bisa sepenuhnya menjalankan amanah yang telah diterima. Tapi kami juga merasa senang karena aksi yang dilakukan tidak sia-sia.
“Wahai wakil rakyat, dimana tanggungjawabmu? Mengapa kau pergi begitu saja meninggalkan masalah yang membebani rakyatmu...? Keluarlah...tunjukkan bahwa kau tidak salah telah dipilih...”




By: Rinpaka

Kamis, 08 Maret 2012

Sekilas Tentang "CINTA DI RUMAH HASAN AL BANNA"


Sebagaimana yang ditulis oleh adiknya Hasan Al Banna, Abdur-Rahman Al Banna, bahwa Imam Hasan Al Banna menerima pendidikan agama dari ayahnya, alumni Universitas Al-azhar yang mendalami ilmu hadits dan fiqh. Abdur-Rahman Al Banna menyebutkan bahwa ketika mereka pulang sekolah ayah menyambut dengan penuh kasih sayang, menyediakan jadwal pengajian di rumah, mengajarkan kitab sirah Rasulullah Saw, ilmu fiqh dan nahwu.

Hari-hari Imam Hasan Al Banna penuh dengan jadwal yang telah di atur sedemikian rupa. Jam enam pagi mengaji Al-Qur'an, jam tujuh belajar tafsir Al-Qur'an dan Hadits, jam delapan belajar Fiqh dan Usul Fiqh. Selanjutnya pergi ke sekolah. Ada banyak buku di dalam perpustakaan ayah dan mengizinkan mereka untuk membacanya dan bahkan mendorong mereka untuk membaca.Ayah mereka selalu mengadakan diskusi ilmiah yang dikaji dengan para ulama yang lain. Imam Hasan Al Banna dan adiknya selalu menyimak kajian tersebut dan memahaminya dengan serius yang terekam dalam memori mereka. Segala masalah yang sulit dipahami oleh mereka ditanyakan kepada ayah atau dirujuk ke kitab-kitab tafsir dan As Sunnah.

"Aku Ingin Menyampaikan Dakwah Ini Sampai Ke Janin di Perut Ibunya" Hasan Al Banna
Dalam sebuah keluarga, posisi ayah adalah salah satu batu bata yang menopang bangunan umat Islam. Ada banyak peran ayah dalam Islam yang harus ditunaikan dengan benar. Jika seorang ayah telah menunaikan kewajibannya, berarti ia telah terbebas dari tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT di hari kiamat. Allah berfirman dalam QS. At Tahrim: 6, "Hai orang-orang yang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras, tidak melanggar perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. "Dan sebuah Hadits Rasulullah Saw," Setiap kalian adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya ... Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya ... "(HR. Bukhari dari hadits Nafi 'bin Umar ra).

Hasan Al Banna seorang pemimpin dakwah, seorang pembina para kader ummat, sekaligus seorang ayah dalam keluarga bahkan berperan dalam membina anak-anak diseluruh dunia ini.Dialah yang melontarkan kalimat-kalimat emasnya yang berbunyi, "Aku ingin sekali menyampaikan dakwah ini sampai kepada janin yang ada di dalam perut ibu mereka."

Mari Bertamu ke Rumah Hasan Al Banna

Imam Hasan Al Banna memberikan contoh yang agung dalam pemenuhan misi seorang ayah yang berhasil. Ia teladan praktis, hati yang penuh tanggung jawab, pemimpin yang mengayomi, gelombang rindu dan kasih sayang, cahaya kebaikan, mata air pemberian, sumber kedermawanan dan kemurahan, uluran kasih sayang dan ketegasan, pemimpin penuh disiplin yang diiringi cinta, mata yang tak terpejam untuk terus mengejar keberhasilan dalam perbaikan. Imam Hasan Al Banna menerapkan teori pendidikan dan pembinaan yang diserukannya dengan sangat baik di dalam keluarganya. Antara kata dan realitas hidupnya, menyuarakan satu hal yang sama.

Imam Hasan Al Banna dikaruniai enam orang anak, satu laki-laki dan lima perempuan. Anak pertama bernama Wafa, istri seorang da'i terkenal yakni Sa'id Ramadhan rahimahullah yang berusia 17 tahun saat ayahnya wafat. Anak kedua Ahmad saiful Islam, seorang advokat Mesir dan mantan anggota parlemen Mesir. Usianya baru 14 tahun saat ayahnya wafat. Anak ketiga, Dr.Tsana, dosen urusan pengaturan rumah tangga yang berusia 11 tahun ketika ayahnya meninggal.Anak keempat, Ir. Roja ', usianya sekitar lima setengah tahun saat ayahnya wafat. Anak kelima, Dr.Halah, dosen kedokteran anak di Universitas Al Azhar, usianya dua tahun lebih saat ayahnya meninggal. Anak keenam yang masih dalam kandungan ibunya bernama Dr. Istisyhad, dosen ekonomi Islam. Dinamakan Istisyhad yang berarti memburu mati syahid.

Tahap utama yang dilakukan Imam Hasan Al Banna dalam membangun anak-anak yang akan menjadi keturunannya dimulai dari proses pemilihan perempuan yang mendampinginya. Istri Imam Hasan Al Banna adalah seorang anak dari keluarga terhormat As Shauli. Mereka umumnya dari keluarga pedagang kelas menengah dan memiliki sentimen agama yang baik. Diceritakan suatu hari Ibu Imam Hasan Al Banna ketika berkunjung kerumah keluarga ini dan terkesan dengan alunan suara bacaan Al Qur'an yang baik sekali yang tengah dibaca oleh seorang putri dalam keluarga tersebut ketika sedang sholat. Ibu Imam hasan Al Banna menceritakan perihal tersebut dan saat itulah Ia mulai terbetik bahwa wanita seperti itulah yang layak menjadi pendamping hidupnya. Akhirnya Imam Hasan Al Banna menikahi wanita itu menjadi istri yang mendampinginya saat lapang dan sempit, sulit dan senang, dialah penolong yang baik dalam dakwahnya, sampai akhirnya "Imam Hasan Al Banna menyongsong kematian menemui Rabb-nya sebagai seorang yang dizalimi (Al Ikhwan Al Muslimun , Ahdats Shana'at Tariikh, Mahmud Abdul Halim, hal. 68). "

Ketika Imam Hasan Al Banna mendirikan sebuah sekretariat pusat Ikhwanul Muslimun di Kairo, istrinya meminta untuk membawa sebagian besar perabot rumah agar sekretariat menjadi lebih hidup. Hal tersebut justru membuat istrinya sangat senang dan bahkan sepertinya ia tidak merasakan memberikan apapun untuk dakwah ini dari perabotan rumahnya. Kepercayaan istrinya pun sangat besar sekali dan sulit digambarkan. Seperti para akhawat datang mendiskusikan masalah dakwah dan istrinya tidak merasakan kesempitan dengan hal itu dan tidak bertanya apa yang dilakukan para akhawat itu. Bahkan sampai ketika rumah Imam Hasan Al Banna termasuk dalam peta rumah yang akan dihancurkan, istirnya meminta untuk membelikan rumah kecil. Tapi imam hasan Al Banna menjawab bahwa istana kita menanti kita di surga dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kita di dunia. Perkatan itu meresap dalam hati istrinya dengan penuh cinta dqan sikap lapang bahkan ia tidak marah dan tidak kecewa. Rasa saling menghormati di antara mereka terasa sekali dengan cara saling memanggil, Imam Hasan Al Banna memanggil istrinya dengan ungkapan, wahai Ummu Wafa dan istrinya memanggil Imam Hasan Al Banna dengan panggilan, wahai Ustadz Hasan.

Kondisi keluarga yang penuh kasih sayang, penuh perhatian dan kepedulian yang akan menyebabkan anggota keluarga saling hormat dan saling menghargai. Diantaranya adalah adanya lingkungan yang mendukung untuk tujuan pendidikan dan membantu sang anak lebih mudah memiliki perilaku yang baik. Perilaku Imam Hasan Al banna di rumah, interaksinya dengan istrinya, hubungannya dengan anak-anaknya, itu semua mewakili lingkungan yang baik dan subur untuk menghidupkan generasi yang shalih.

Praktik Tarbiyah Hasan Al Banna kepada Anak-anaknya

Adanya visi yang benar dan kemampuan aplikasi sikap yang baik, adalah syarat utama dalam pentarbiyahankeluarga. Imam Hasan Al Banna memiliki visi yang jelas dan mulia, sehingga itu juga yang menjadikannya secara sadar menjalani berbagai aktivitas hidupnya. Diantara bagaimana Imam Hasan Al Banna mendidik anak-anak dan istrinya, yaitu:

® Makan bersama yang menjadi prioritas

® Tak ada suara keras di rumah

® Bangunkan aku tujuh menit lagi (kemampuannya mengatur dirinya dan selalu disiplin terhadap dirinya sendiri)

® Melakukan perencanaan yang baik untuk semua anak-anaknya dengan setiap anak memiliki catatan yang khusus pada anak-anaknya seditail mungkin (misalnya, tanggal dan sejarah kelahiran, jadwal pemberian obat dan surat keterangan dokter tentang kondisi sakit anak secara detail, ijazah, catatan seputar prestasi anak di sekolah, dll)

® Membawakan bekal ke sekolah (untuk anaknya Roja yang sering lupa membawa roti untuk makan pagi)

® Memenuhi kebutuhan rumah setiap bulan bahkan untuk makanan yang hanya ada pada musim-misim tertentu

® Anak-anak menuruti tanpa harus diperintah (ketulusan cinta dan memelihara perasaan anak-anak yang berbuah wibawa indah di mata anak-anaknya)

® Ada uang jajanan harian, mingguan, dan bulanan

® Mengirim mata-mata apakah uang yang diberikanya untuk diinfaqkan telah dilakukan oleh anak-anaknya atau tidak sehinnga ia merasa tenang dengan penggunaan uang yang dipercayakan

® Nilai hidup ini ada pada keimanan (melatih anak-anaknya untuk belajar memenej kehidupan, bagaimana menciptakan kesuksesan agar mereka tidak terhempas oleh topan kegagalan dan kesiasian setelah kepergian orang tua
)
® Menasehati tidak secara langsung ketika anaknya, Saiful Islam menyukai baca komik dengan mengarahkan secara tidak langsung agar apa yang dilakukan oleh anak-anaknya tumbuh dari diri sendiri, bukan dari perintah atau tekanan siapapun

® Menyemai cinta dengan contoh langsung

® "Aku mulai membaca dari ayat ini ..." membangun melalui metode tidak langsung, yaitu metode menyampaikan tanpa meminta

® Berinteraksi secara wajar dengan lingkungan (memungkinkan ikut wisata sekolah dan berinteraksi secara wajar dengan tetangga dan lingkungan rumah)

® Keterlibatan yang bijaksana (saat Wafa mulai memakai jilban dan salah seorang guru mereka tidak menyetujuinya)

® Sekretaris pribadi ayah (Wafa yang ditugaskan seperti layaknya sekretaris yang turut hadir bersama ayah dalam pertemuan-pertemuan informal dengan para akhwat untuk mendiskusikan sejumlah masalah)

® Setiap anak memiliki rak-rak buku dan memberikan uang untuk membeli buku yang disukai anak-anaknya

® Menemani anak-anaknya saat bermain dan liburan sekolah

® Berupaya selalu menyenangkan hati anak, menenangkannya, mencerahkan pikirannya, menyisipkan kebahagiaan dalam hati mereka

® Membiarkan Saiful Islam membaca dan menghabisi buku komik

® menyodorkan kesepakatan tentang memuliakan tamu masing-masing

® Tidak memaksa untuk melakukan sesuatu, tapi mengarahkan dengan cara yang tepat (Tsana tidak naik kelas karena kesalahannya sendiri)

® Memberikan reward dan punishment (Saiful Islam dijewer telinganya dan Tsana dipukul telapak kakinya karena tidak memakai sendal)

® Kehangatan pelukan sang ayah (ketika Saiful Islam sudah mulai dewasa dan menanyakan sesuatu)

® Menyadarkan anak perempuan dengan peran keperempuanannya

® Pasangan yang romantis dan harmonis (tidak membangunkan istri ketika pulang larut malam dan menyediakan sendiri makan malam baik untuk sendiri maupun untuk rekan-rekannya)

® Menanamkan solidaritas dengan kondisi dunia Islam (melarang membuat kue untuk menyambut hari raya karena ada dua belas kader ikhwan yang gugur di Paleatina)

® Tidak memarahi ketika Saiful Islam mengambil berkas-berkas pentingnya

® Teman belajar dan berdiskusi

® Memberikan arahan "Jangan menganggap ayahmu bermanfaat untukmu di akhirat kelak"

® Menunaikan hak-hak keluarga dengan sangat baik (tidak meremehkan salah satu pun anggota keluarga dan ketika dalam perjalanan, saat bekerja, saat berdakwah tidak ada di rumah, telah menyiapkan dan mengatur semua urusan keluarganya dengan baik)

Petikan Wawancara Saiful Islam Al Banna "Ayahku Pemimpin yang Disiapkan Allah SWT. "

Ø Masa kecil Imam Hasan Al Banna pernah hilang di waktu jumat dan ditemukan ketika berada di atas mimbar khatib jumat (meniru ayahnya yang saat jumatan jadi Khatib)

Ø Memanfaatkan semaksimal mungkin perpustakaan milik ayah

Ø Sejak usia muda ayah sudah menyatakan bahwa ia akan menentang supremasi asing terhadap banyak lokasi di dunia Islam

Ø Memiliki banyak kemampuan dan ragam potensi unik

Ø Hasan Al Banna adalah sosok yang jiwanya sentimentil tapi di sisi lain ia juga orang yang realistis dalam memandang berbagai persoalan dan juga sosok konseptualis dan sekaligus sosok praktis

Ø Hasan Al Banna sebagai pemimpin politik pemimpin gerakan Islam sebagai sosok pemimpin ideal yang bersih

Ø Seorang khatib dengan metode yang menghimpun antara agama dan politik, antara tuntunan agama dengan realitas dan problematika masyarakat

Ø Hasan Al Banna sangat mengapresiasi dan menghormati semua ikhwan karena keterkaitannya dengan dakwah, janji mereka pada dakwah, kesiapan mereka untuk berkorban di jalan dakwah

Ø Menuliskan sambutan sebuah majalah tentang tidak ada posisi pemimpin dan pasukan dalam Al Ikhwan "Semua kita adalah tim di jalan Allah:

Ø Tulus dan jujur saat menghadapi lawan pemikirannya dengan sangat menjaga perkataannya dan tak ada ungkapan yang kasar

Ø Sebuah makalah yang ditulis oleh Hasan Al Banna tentang "Kepada Siapa Dakwah ini diserukan?" Yang menegaskan bahwa keluarga adalah nomor satu objek dakwah yang harus diperhatikan

Penulis: Muhammad Lili Nur Aulia

By Admin

Jumat, 02 Maret 2012

Gembira Bersama KAMMI



Semua berawal dari CINTA. Kali ini KAMMI Komsat Unej mencoba berbagi kebahagiaan dengan adik2 binaanya, dari sudut kecil pinggiran kampus Unej di Jl Jawa VII.
Setiap hari minggu pagi pkl. 09.00 WIB semua kader KAMMI komisariat UJ umumnya dan kader soshumas khususnya, selalu mengadakan kegiatan bersama dengan adik-adik binaan di mushala Jawa VII. Kegiatannya selalu berbeda-beda. Mulai dari kegiatan yang bersifat menambah pengetahuan seperti ngajar, ngelesi dan mengaji, hingga kegiatan yang bersifat menyenangkan untuk menumbuhkan semangat seperti, bermain bola, volley, gobak sodor, petak umpet, dan masih banyak kegiatan yang lainnya. Fungsi dari semua kegiatan ini tentunya sebagai sarana penambah wawasan dan ilmu pengetahuan, sarana penumbuh semangat dan juga sarana pembiasaan hal-hal baik.
Minggu ini, 26 Februari 2012, adik-adik akan melakukan kegiatan yang menumbuhkan semangat dan tentunya membuat mereka senang. Apakah itu ?/! Ya, tepat sekali. Rujak party dan juga olahraga. Adik-adik sangat bersemangat sekali mengikuti kegiatan ini. Mengapa begitu ?! Fakta membuktikan bahwa, ketika mereka harus belajar, pada jadwal mereka harus datang pkl. 09.00 WIB, tapi pada kenyataannya mereka sering datang pkl. 10.00 WIB.
Hari ini, dijadwalkan mereka akan bermain-main pkl. 08.00 WIB. Tetapi pkl. 07.30 WIB mereka sudah datang. Memang dasar sifat anak-anak suka dengan hal-hal yang lebih banyak membuat mereka untuk bertindak daripada belajar atau mendengarkan.
Pkl. 08.00 WIB adik-adik sudah berkumpul di lapangan UJ yang*terletak di belakang mushala yang biasanya digunakan untuk belajar. Mereka dipandu oleh akhi Toriq sebagai ketua dari soshumas dan juga ukhti Alya. Waktu itu belum banyak pengurus bahkan anggota dari soshumas sendiri yang datang untuk membantu.

Kurang lebih ada duapuluh delapan anak yang ikut. Laki-laki dan perempuan jumlahnya hampir seimbang. Tema kegiatannya adalah belajar sambil bermain. Konsepnya, pertama untuk anak laki-laki bermain bola sedangkan perempuan membuat rujak. Ketika keduanya sudah selesai, maka akan diadakan lomba lari, balap kelereng dan juga yel-yel.

Anak laki-laki tampak benar-benar senang. Mereka dibagi menjadi dua regu dan saling berlomba-lomba untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Walaupun bermain di jalan raya, mereka tampak*bersemangat sekali. Lari kesana-kemari mengejar bola. Saking semangatnya, baru beberapa menit bermain mereka sudah merasa gerah dan berkeringat. Hal ini membuat beberapa orang dari mereka sampai membuka baju.





Disisi yang lain, tampak anak-anak perempuan duduk berkumpul di atas karpet. Disekelilingnya, banyak buah belimbing, pepaya, mentimun dan juga nanas. Semuanya benar-benar terlihat sibuk.

Wah...ternyata pengurus juga tidak mau kalah sibuk dengan adik -adiknya.



Semuanya bekerjasama saling membantu. Ada yang mengulek kacang, mengupas, dan juga memotong buah. Semuanya benar-benar telihat asyik dengan kegiatannya masing-masing.

Waktu beranjak semakin siang. Ketika anak-anak perempuan selesai dengan pembuatan rujaknya serta anak laki-laki relesai dengan bermain bolanya, akh Agus dan akh Toriq datang dan meminta mereka untuk berkumpul.

Mereka diberi instruksi untuk melaksanakan lomba lari, balap kelereng serta penyampaian pesan atau yel-yel islami.
Walaupun badan terasa sudah lengket, perut lapar dan tidak sabar ingin segera memakan rujak, anak-anak berusaha keras untuk mengikuti lomba.

“Ayo Intan..., Dina... SEMANGAT...!!!”

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. Jika ketika bermain semangat mereka semangat 45, kini ketika makan rujak semangat mereka menjadi semangat 2012.
“Rujak...
rujak...


gratis...!!!”


Acara penutup diisi dengan pemotongan kue oleh akh Agus dibantu akh Emu, sekaligus juga langsung dibagikan kepada adik-adik.

Kue dibuat dengan penuh cinta,
dipersembahkan untuk adik-adik tercinta.

Ada juga pembagian hadiah buat pemenang lomba,

Dan kegiatan paling akhir dari yang terakhir adalah...

Beres...
Beres...!!!


“Dan ingatlah, sesungguhnya kerapihan itu adalah sebagian dari keindahan...”
Semangat akhi wa ukhti...yakinlah, pahala Allah selalu siap buat kita...

“Tiada hari yang paling indah, selain hari ketika bisa melihat senyum tulus yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Tiada waktu yang baik selain waktu yang dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain...”

Salam Semangat, ALLAHU AKBAR...!!!



Oleh: Rinpaka