Selasa, 03 November 2009

Untuk Siapa Kita Berjuang?



Untuk Siapa Kita Berjuang?

dakwatuna.com


عن عبد الله بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما فتح حنينا قسم الغنائم فأعطى المؤلفة قلوبهم فبلغه أن الأنصار يحبون أن يصيبوا ما أصاب الناس فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فخطبهم فحمد الله وأثنى عليه ثم قال يا معشر الأنصار ألم أجدكم ضلالا فهداكم الله بي وعالة فأغناكم الله بي ومتفرقين فجمعكم الله بي ويقولون الله ورسوله أمن (رواه مسلم)

Dari Abdullah Bin Zaid, bahwa Rasulullah saw., saat menaklukkan Hunain, membagi-bagikan ganimah (harta pampasan perang). Beliau memberi orang-orang yang hatinya sedang dijinakkan (muallafatu qulubuhum). Lalu sampai (berita) kepada beliau bahwa orang-orang Anshar pun ingin memperoleh apa yang diperoleh orang lain. Maka bangkitlah Rasulullah saw. berkhutbah seraya memuji dan menyanjung Allah lalu mengatakan, “Wahai segenap orang Anshar, bukankah dahulu aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraanku; kalian papa lalu Allah memberi kalian kecukupan dengan perantaraanku; kalian terpecah-belah lalu Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang paling banyak jasanya.” (Shahih Muslim juz II: 738)

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim –baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama’ah dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam perasaannya, wajar –bahkan ada yang menganggap harus– bila jam’ah dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.

Tampaknya perasaan semacam itu manusiawi. Buktinya hal itu pernah pula terjadi pada masyarakat Islam terbaik yakni generasi sahabat Rasulullah saw. Hadits yang tertulis di atas adalah bagian dari nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. kepada kaum Anshar. Secara lebih lengkap, Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mencatat sebagai berikut:

Berawal dari cara Rasulullah saw. membagi-bagikan ganimah (harta rampasan perang) Hunain. Beliau membagi justru kepada orang-orang yang baru masuk Islam pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah), yang notabene belum banyak perngorbanannya. Bahkan pada perang Hunain itu justru merekalah yang pertama lari tunggang-langgang saat mendapat gempuran awal dari musuh. Sedangkan orang-orang yang sudah sejak awal turut berjuang dan malang-melintang dalam kancah jihad, kaum Anshar, tidak mendapatkan sedikit pun dari ganimah itu. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada sesama mereka, “Sekarang Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya.”

Desas-desus itu akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian meminta pimpinan mereka, Sa’ad Bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh kaum Anshar itu di satu tempat. Setelah berkumpul, Rasulullah saw. datang untuk menasihati mereka. “Apa desas-desus yang berkembang di tengah-tengah kalian? Apa perasaan-perasaan yang ada di hati kalian terhadapku?” kata Rasulullah membuka khutbah, setelah bertahmid dan menyanjung Allah swt. “Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan kalian tersesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Kalian miskin lalu Allah memberi kalian kecukupan? Kalian bermusuhan lalu Allah memadukan hati kalian?” Mereka mengatakan, “Benar, Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. melanjutkan, “Wahai kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawabku?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dengan apa kami menjawab engkau? Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, kalau kalian mau pasti kalian mengatakan –dan kalian pasti berkata jujur dan dapat dipercaya: ‘Engkau datang kepada kami, wahai Rasulullah, dalam keadaan didustakan lalu kami mempercayai engkau. Engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami membela engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir lalu kami melindungi engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara lalu kami membantu engkau’. Wahai kaum Anshar, apakah hati kalian lebih mencintai kemilau dunia yang dengannya aku menjinakkan hati sebagian orang agar teguh dalam Islam padahal aku mengandalkan kalian pada keislaman kalian?” Dan pada akhirnya kaum Anshar menyadari kekeliruan mereka dalam memposisikan diri mereka dan memandang Rasulullah saw. Mereka menangis sejadi-jadinya hingga janggut-janggut mereka basah dengan air mata seraya mengatakan, “Kami puas dengan Rasulullah saw. sebagai bagian kami.”

Rasulullah saw. mengingatkan kepada kita bahwa manakala kita mendapat hidayah Allah swt. untuk masuk dalam barisan Islam, menjadi prajurit Allah, lalu melakukan perjuangan dan pengorbanan untuk Islam, maka sesungguhnya itu bukanlah jasa kita untuk perjuangan Islam. Melainkan justru jasa dan karunia Allah kepada kita sekalian. Tanpa hidayah Allah itu kita hanya akan menjadi manusia dengan kualitas benda mati semacam kayu (khusyubum-musannadah), bahkan bagaikan binatang ternak (kal-an’am). Dan tanpa terlibat dalam perjuangan, kita hanya akan menjadi orang-orang yang tidak punya apa pun untuk menjawab pertanyaan Allah swt. saat kita menghadap-Nya: apa yang telah kau lakukan di dunia?

Sungguh, perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini sama sekali bukan jasa untuk Allah swt. Karena Dia, tanpa bantuan manusia, mampu menegakkan Islam dengan tangan-Nya sendiri. Dan Allah tidak mendapat keuntungan sedikit pun dari ketaatan manusia. Sebaliknya Dia juga tidak rugi sedikit pun bila seluruh manusia ingkar pada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam. Dan firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 56-58)

Bukan pula perjuangan kita untuk membela dan menguntungkan Rasulullah saw. Karena, pertama kita sudah jauh dari masa hidup Rasulullah saw. Dan kedua, para sahabat yang nyata-nyata terlibat dalam perjuangan dan pengorbanan bersama Rasulullah saw. saja pun hakikatnya bukan membela Rasulullah saw. Karena tanpa bantuan kaum Muslimin pun Rasulullah saw. sudah nyata-nyata dibela oleh Allah swt. Kepada para sahabat yang habis-habisan membela dan berjuang untuk Islam bersama Rasulullah saw. itu Allah swt. berfirman: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 40)

Lalu, apakah perjuangan dan pengorbanan kita menguntungkan Islam? Islam tanpa kita, akan ada orang lain yang memperjuangkannya. Allah swt. menegaskan hal itu dengan ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Muslim)

Jadi harus kita sadari, sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanan adalah jasa kita untuk diri kita sendiri. Untuk diri kita saat menghadap Allah swt. Sebab, setiap kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di dunia. “Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah dia usahakan.” Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (At-Taubah: 20). Allahu a’la

MENENGOK PERANAN PEMUDA MENUJU PERUBAHAN


MENENGOK PERANAN PEMUDA MENUJU PERUBAHAN

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS Ali Imran : 104).

Pemuda merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat. Dari tangan para pemuda inilah nasib bangsa dan Negara dipertaruhkan. Dalam perjalananya para pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa mencoba untuk terus memperjuangkan kepentingan rakyat walaupun di satu sisi akan berbenturan dengan berbagai kepentingan rezim. Akan tetapi inilah hal yang membuktikan bahwa mahasiswa/pemuda merupakan iron stock yang akan membawa perubahan ke depan.

Ada fakta menarik bila kita sedikit flash back sejarah pergerakan mahasiswa dari rezim orba-reormasi:

1965

Demonstrasi terjadi di mana-mana sebagai reaksi ketidakpuasan mahasiswa akibat kebijakan pemerintah saat itu yang mengakibatkan ketimpangan social semakin terlihat. Kesenjangan ekonomi semakin tampak yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat semakin menjadi. Reaksi ini mengkibatkan rakyat dan mahasiswa mengeluarkan TRITURA:

1. Turunkan harga

2. Rombak Kabinet dwikora

3. Bubarkan PKI

1974

Terjadi peristiwa MALARI . ratusan mahasiswa ditangkap karena dituduh berbuat makar. Peristiwa ini terjadi akibat pasar Indonesia dikuasai jepang hal ini jelas merugikan rakyat dan eksistensi Negara sendiri.

1978

Lahirnya NKK/BKK, yang menuntut mahasiswa untuk study oriented. Dema (dewan mahasiswa) dibubarkan, organisasi ekstra kampus dilarang beraktivitas di dalam kampus. Hal ini menyebabkan sempitnya ruang gerak dan berpikir mahasiswa. NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) adalah upaya untuk menjaga kehidupan kampus agar tetap beorientasi akademis. BKK (Badan Koordinasi Kampus) adalah upaya penyempitan ruang gerak mahasiswa melalui pengawasan yang ketat dari rektorat.

1980an

Untuk menekan pengaruh Islam, pemerintah memberlakukan asas tunggal (PANCASILA). Azas Pancasila terus didoktrinkan dalam kehidupan kampus. Hal ini juga menyebabkan HMI pecah menjadi HMI DPO dan HMI MPO.

1998

Badai krisis ekonomi menghantam Indonesia, kondisi ini semakin parah dengan adanya KKN para elite politik. Tuntutan agar Ssoeharto mundur terjadi dimana-mana, tragedi trisakti puncaknya. Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung MPR/DPR. Rezim orba berakhir setelah pada tanggal 21 Mei 1998 menyatakan mengundurkan diri sebagai Presiden RI.

Era Reformasi

Pada era Presiden Habibie banyak ketidakpuasan yang disinyalir Habibie merupakan produk orba. Pada saat era Gus Dur juga diwarnai aksi akibat kasus bullogaite, nepotisme,dll yang berujung pemberhentian Gusdur sebagai presiden pada waktu itu. Pada era Megawati juga banyak demonstrasi Mahasiswa di berbagai daerah. Mahasiswa dan rakyat tidak puas dengan rezim waktu itu yang telah menjual aset nasional, korupsi sukhoi, dll. Ketika tampuk kepemimpinan beralih k SBY, juga tidak luput dari sorotan mahasiswa terhadap kinerja. Kebijakan menaikan harga BBM dan kedatangan bush menjadi isu paling dominan seputar demonstrasi mahasiswa. Pemerintah juga dinilai plin-plan terkait kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah juga dinilai melukai rakyat dengan memanfaatkan momentum pemilu 2009 sebagai ajang untuk meraup suara dengan menaikkan gaji guru yang dinilai syarat unsur politis.

Fakta menarik yang bisa kita simpulkan dari kejadian di atas yaitu bahwa pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa dari rezim orde lama-orde reformasi ini senantiasa terus bergerak mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah melalui mimbar bebas,demonstrasi, diskusi publik, dll. Hal ini terus dilakukan oleh mahasiswa sebagai iron stock bangsa untuk membela kepentingan rakyat.

Momentum bagi pemuda sebetulnya sudah di mulai sejak zaman Rasulullah SAW. Bagaimana ketika itu beliau menjadi contoh riil semangat pemuda yang berhasil menyebarkan Islam sampai ke penjuru dunia. Umar bin Khattab mengatakan “setiap aku mempunyai masalah maka yang kucari adalah pemuda”.

Bila kita menengok di negara kita, Soekarno pernah mengatakan “berilah aku seorang pemuda maka aku akan mengguncang dunia”. Hal ini juga teraktualisasi dalam sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai pelopor persatuan nasional. Pada 1945 juga peran pemuda sebagai pelopor proklamasi kemerdekaanRI. Berujung pada 1998 juga peran serta pemuda yang berhasil menumbangkan rezim orba yang bertahan selama 32 tahun.

yaa ayyuhassabab inna fi yadikum amrol ummah wa fii aqdamikum hayaataha”

(wahai pemuda sesungguhnya di tanganmu urusan bangsa dan di derap langkahmu tertumpu hidup dan matinya suatu bangsa).

Pemuda selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad menjadi corong kebangkitan suatu bangsa..bagaimanakah dengan sekarang?? Bila kita melihat bagaimana efek dari sumpah pemuda yang telah mengikat seluruh pemuda di tanah air untuk bersatu melawan imperialisme, pragmatisme, hedonisme, ini menjadi suatu titik tolak kebangkitan bangsa pada saat itu.

Siapapun yang memimpin bangsa ini, kepentingan rakyat tetap harus diperjuangkan. Islam telah mengajarkan bahwa apabila suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya tunggulah saat kehancuran. Di era reformasi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemuda sebagai nahkoda masa depan bangsa. Akan tetapi bila kita lihat di era reformasi inipun, praktis peninggalan orde barulah yang sampai sekarang sebagai nahkoda masa depan bangsa. Ini tentunya kontras dengan spirit dan idealisme para pemuda yang berjuang tak kenal lelah.

Momentum tentunya masih ada dan akan terus berlanjut beriringan dengan spirit pemuda itu sendiri. Kedepan diharapkan akan muncul sosok-sosok pemuda yang memiliki jiwa negarawan. Pemuda muslim tentunya akan menjadi icon besar dalam peranannya mengawal agenda-agenda reformasi. Pribadi Muslim Negarawan diharapkan akan senantiasa menghiasi pemuda-pemuda muslim bangsa ini sebagai umat mayoritas di Tanah Air ini yang ke depan diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa dan negara ini. Pribadi Muslim Negarawan tidak hanya sebagai pejabat politik, tetapi juga berani menolak setiap bentuk intervensi asing dan berbuat untuk kepentingan rakyat yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam.

Bila kita perhatikan selama ini kebanyakan peranan pemuda hanya sebatas sebagai “yudikatif (pengawas)” kebijakan-kebijakan pemerintah. Sang “eksekutif (eksekutor)” adalah pemerintah yang rata-rata dihuni pejabat tua. Hal ini seringkali terjadi benturan ditataran lapangan diakibatkan perbedaan paradigma antara golongan tua dan muda. Sejarah di Republik ini mencatat pemuda/mahasiswa selalu berada di garda depan membela kepentingan rakyat.

Solusi alternatif kedepan diharapkan terjadinya keseimbangan antara golongan tua dengan golongan muda ditataran legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Artinya ke depan perumus kebijakan, pelaksana kebijakan, dan pengawas kebijakan merupakan kolaborasi yang seimbang antara kaum senior dengan pemuda. Solusi ini diharapkan akan membawa bangsa dan negara ini menuju bangsa dan negara yang adil dan bermartabat. Wallahua’lam

By : Firdian Tri Cahyo (Ketua Umum KAMMI Komisariat UNEJ)

Selasa, 08 September 2009

ALHAMDULILLAH...RAMADHAN KEMBALI MENYAPA

. . . HINDARKAN KESIAAN KATA & PERBUATAN TINGGIKAN HARI DENGAN KESIBUKAN ROBBANI . . .

SEMANGAT BERMUJAHADAH MELAWAN HAWANAFSU !!!!

Rabu, 01 Juli 2009

MARS KAMMI


KAMMI sadari jalan ini kan penuh onak dan duri
Aral menghadang dan kedzaliman yang akan KAMMI hadapi
KAMMI relakan jua serahkan dengan tekad di hati
Jasad ini darah ini sepenuh ridho Ilahi

KAMMI adalah panah-panah terbujur
Yang siap dilepaskan dari busur
Tuju sasaran siapapun pemanahnya
KAMMI adalah pedang-pedang terhunus
Yang siap berayun menebas musuh
Tiada peduli siapapun pemegangnya
Asalkan ikhlas di hati tuk hanya ridho Illahi Robbi

KAMMI adalah tombak-tombak berjajar
Yang siap dilontarkan dan menghujam
Menembus dada lantakkan keangkuhan
KAMMI adalah butir-butir peluru
Yang siap ditembakkan dan melaju
Dan mengoyak menumbang kedzaliman
Asalkan ikhlas di hati tuk jumpa wajah Illahi Robbi

KAMMI adalah mata pena yang tajam
Yang siap menuliskan kebenaran
Tanpa ragu ungkapkan keadilan
KAMMI pisau belati yang selalu tajam
Bak kesabaran yang tak pernah padam
Tuk arungi dakwah ini jalan panjang
Asalkan ikhlas di hati menuju jannah Illahi Robbi

TAFSIR KEPRIBADIAN UTUH KADER KAMMI

Dalam manhaj kaderisasi kualitas karakter kader KAMMI termaktub dalam rangkaian Filosofi Gerakan KAMMI. Terdapat 39 citra kader yang tercermin dari karakter gerakan KAMMI sebagai berikut:

1. Pemimpin tangguh : Memiliki gaya kepemimpinan yang berkarakter yang didasarkan pada basis kesadaran intelektual, sosial dan spiritual.

2. Iman dan taqwa : Meyakini akan kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul, dan tidak ada sedikitpun keraguan untuk merealisasikannya dalam kehidupan.

3. Intelektual : Memiliki dan mengembangkan tradisi membaca, menulis, berdiskusi dan aksi dengan menjunjung tinggi objektivitas berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran universal dalam rangka perbaikan ummat.

4. Pelopor : Memiliki gagasan untuk mengawali perubahan kearah perbaikan.

5. Komunikatif : Mampu menyampaikan pesan dan informasi baik kepada individu atau kelompok secara efektif sehingga menghasilkan perubahan sikap/perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan.

6. Solidaritas : Memiliki sense of crisis dan kemampuan untuk membangun kebersamaan guna menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.

7. Amal jama’i : Membangun sinergi positif antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat dan mencegah kemungkaran.

8. Problem solver : Berorientasi pada solusi berdasarkan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip islam.

9. Independen : Kemandirian untuk menentukan pilihan dan kehendak atas dasar pemahaman.

10. Ikhlas : Bersandarkan kepada ridho Allah, dan bukan kepada kepentingan yang tersamar.

11. Pemberani : Mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya , resiko dan kesulitan.

12. Mujahid : Bersungguh-sungguh terhadap segala aktifitas yang dilakukannya.

13. Penghitung resiko yang cermat: Mampu mengambil keputusan yang tepat yang didasari atas perhitungan yang matang.

14. Perindu syurga : Berorientasi pada kebahagian akhirat.

15. ’Abid : Menjadikan segala aktifitas untuk tujuan ibadah pada Allah.

16. Da’i : Giat menyeru ke jalan Allah dengan hikmah, dan nasihat yang baik.

17. Menjauhi kesia-siaan : Mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat.

18. Visioner : Memiliki pandangan dan wawasan yang luas terhadap apa yang tampak pada khayalan dan cita-cita; kemampuan untuk melihat pada inti persoalan.

19. Aktif : Senantiasa bergerak.

20. Progresif : Kesiapan diri untuk terus berproses lebih maju.

21. Manusia pembelajar : Haus terhadap ilmu; mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas wawasan.

22. Ilmuwan : Menekuni spesifikasi ilmu tertentu; berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan.

23. Kritis : Memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kebenaran.

24. Politisi : Peka dan mampu berfikir strategis dalam pengambilan kebijakan terkait dengan permasalahan ummat.

25. Moralis : Menjunjung tinggi etika dan adab-adab Islam

26. Transformatif : Kemampuan mengaktualisasikan gagasan / konsep ke dalam realitas.

27. Murobbi : Memiliki kemampuan untuk meningkatkan, mengembangkan dan memberdayakan potensi obyek dakwahnya; mampu menunjukkan keteladanan.

28. Social worker : Berpartisipasi dalam aktifitas pelayanan sosial; mampu menjawab tantangan sosial yang ada di masyarakat baik di masa sekarang maupun yang akan datang.

29. Empatik : Melibatkan diri secara emosional terhadap permasalahan yang dihadapi orang lain.

30. Supel : Terbuka pemikiran, memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai macam kondisi sosial masyarakat.

31. Manajer : Memiliki kemampuan mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

32. Ahli strategi : Memiliki kapasitas berfikir strategis.

33. Loyal : Keberpihakan kepada Allah, rasul dan orang-orang beriman.

34. Diplomat : Memiliki kecakapan untuk menggunakan pilihan kata bagi keuntungan pihak yang bersangkutan dalam perundingan, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan pendapat.

35. Luas wawasan : Menguasai berbagai macam aspek keilmuan

36. Percaya diri : Yakin akan kemampuan yang dimilikinya.

37. Militan : Bersemangat tinggi dan tangguh dalam berjuang.

38. Kemandirian ekonomi : Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

39. Istiqomah